Skip to main content

Posts

TERJAWAB

Kemungkinan besar jawaban dari semua ini adalah palsu Mengartikan bahwa hidup itu mudah adalah semu Melupakan dengan secepat kilat adalah dusta Dan memaafkan dengan mudah itu sama saja keliru Kepastian yang selalu ditunggu atau menunggu Diam memang jawabnya Tapi diam juga bisa saja membunuh Tanpa suara, tanpa kata, namun beribu makna Perasaan yang begitu tersakiti perih Bagaikan luka tersayat yang terkena air garam Tak disangka semua ini berlalu begitu saja Tanpa ada yang menerima Tapi tetap saja diterima Tanpa ada yang menyetujuinya Tapi tetap saja disetujui olehnya Caci maki, hinaan, tuduhan semuanya Didapatkan hanya karena pembelaan hati Tapi apa yang didapatkan? Rasa kecewa Rasa penuh kebencian Rasa marah Rasa yang tak pernah bisa hilang Rasa dimana semua air mata bisa ditumpahkan Semuanya, semuanya bercampur menjadi satu Menjadikan semua yang terjadi adalah kesalahan Tanpa arah, ya tanpa arah Sampai mana pun tulisan Tidak akan pernah bisa membalasnya Ji...

SETITIK ARTI

Perjalan panjang yang selama ini dilalui Apakah akan berubah? Perjalanan yang entah akan berakhir seperti apa Akan seperti putih atau bahkan hitam Perjalan yang membawa diri terus melangkah Menuju kata akhir yang entah kapan Perjalanan itu akan diikuti oleh penyesalan Penyesalan yang terus saja mengikuti Meskipun diri tidak menginginkannya Tapi pertanyaannya adalah Mengapa penyesalan tetap saja mengikuti? Dunia memanglah aneh saudara Waktu pun begitu Jika tidak menghargai waktu Maka hilang semua harapan yang diinginkan Dan penyesalan yang mengikuti Dilihat penyesalan selalu ada dimana-mana Mengikuti perputaran dunia beserta waktu Melepaskan apa yang diinginkan Membuat berat langkah kaki yang menuju akhir Tapi mungkin ini yang terbaik Memang penyesalan itu terkadang pahit Tapi tanpa adanya tidak bisa belajar arti baik Tidak bisa belajar mengerti, memahami Tidak bisa belajar akan hidup Memang berat mengenal penyesalan Tapi tanpa itu mungkin hanyalah debu yang ka...

MENANTI JAWAB

Jika boleh mengakui segalanya Sejujurnya Semua ini berat untuk berdiri tegak Tetap mempertahankan tawa Menarik sudut bibir agar terjadi senyuman Namun Topeng terus saja menebal Mengapa Semua hanya sendiri Tertatih pun seperti itu Perih yang terasa Hanya sendiri Mengapa hanya sendiri Dan mengapa rasa sakit hadir selalu Kapan Terbebas dari segala hal Sembuh dari rasa sakit Berubah manis dari pahit Hilang rasa perih Kapan semua terjadi Dan kapan tidak hanya sendiri berjuang Menyesali Pertemuan yang entah Tak mengerti arti dari itu Lalu Apa guna kehadiran Saat itu Kata Kalimat Menjadi bisu Diam Bungkam Terjadi karena satu Kepercayaan hilang Penyesalan datang Kebencian Dendam Kemudian mungkin Tanpa rasa maaf Kacau Siapa Bukan sendiri Tercipta karena hadir Mesin waktu Yang diinginkan tapi mimpi Yang mungkin Memang lebih baik hidup didalamnya Jujur Benci Dendam Dan semua hitam Berada dalam satu ruang Siapa Kapan Bagaimana Cara itu hilang ...

RUANG SUDUT SEMPIT

Langkah yang telah terambil berada disudut Percaya bahwa akan ada waktu dimana melupakan segalanya Berkat luka yang masih basah pasti akan segera Memudar, kembali kuat, serta kembali tersenyum Angan yang ingin dicapai suatu waktu Hingga pada akhirnya semua terasa jelas Membekas dan bertambah basah Semakin mencoba  untuk diam Semakin mencoba untuk jahat Semakin mencoba untuk menjauh Justru sebaliknya Rasa benci yang tumbuh Hina-an yang selalu dilontarkan Kekuatan penuh melupakan Menjadi sia-sia Menjadi abu yang tak berguna Hilang terbawa angin Terbang bersama-sama Lalu tersisa rasa yang seharusnya ikut Luka yang masih basah akan tetap basah Benci yang tumbuh akan tetap menjadi benci Tapi mengapa rasa itu tetap Tertinggal dalam ruang sudut sempit Mengalahkan segala hal yang telah diperjuangkan Bagaimana cara agar semua kembali seperti semula? Akankah ada satu waktu terbangun dari mimpi? Mimpi yang sangat buruk Mimpi yang ...

Pertanyaan Sebuah Pernyataan

Menatap awan diwaktu pagi, Itu membuatku tersenyum. Mengerti akan kehadiran sebuah harapan, Yang dulu pernah hilang. Menghentikan kegundahan, Yang berada sesak dalam dada. Menggantikan tangis, Yang sudah terlanjur keluar dari sudut mata. Perlahan kembali bangkit menatap kenyataan. Namun, itu hanya sementara. Kembali aku runtuhkan, Tembok yang telah aku susun sedemikian rupa. Menata hati yang rapuh, Agar tidak ada kata "pergilah". Agar tidak ada kata "hilanglah". Dan agar tidak ada kata "benci kepadamu". Supaya hidup ini menjadi tenang tanpa rasa itu. Supaya aku dapat kembali merasakan keindahan. Lalu, Mengapa aku yang merasa bersalah? Mengapa aku yang harus berusaha? Mengapa aku yang terpikirkan akan segala hal? Dan apakah kamu tahu segala yang aku rasakan? Segala usaha yang aku lakukan terasa sia-sia. Aku menyesali reruntuhan tembok yang dulu aku buat dengan susah. Menyesali mengapa aku memilih untuk ...

Sebuah Janji

Benci adalah kata yang paling dihindari oleh setiap orang. Namun belakangan kata tersebut menjadi tak asing bagi kehidupan ini. Menghindari dan terus berlari dari kata tersebut merupakan sebuah pilihan. Keputusan berat yang diambil dalam tulisan kehidupan. Bagiku semua ini adalah pilihan. Kata yang terus teringat dalam pikiran, mencoba menghilangkannya perlahan. Setiap detik selalu menginginkan memori tersebut larut. Andai mesin waktu memang ada didunia. Mesin yang dapat merubah keadaan, menghapus segala hal, menghilangkan kebencian. Andai semua ini tidak terjadi maka semua akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja. Bayangan itu terus saja muncul. Hitam diatas jalan putih yang dilalui. Bayang-bayang yang mengganggu pikiran. Bayang yang mengajak untuk pergi ke kata benci. Bayang yang sulit untuk dihapuskan. Bayang yang mungkin saja akan terus mengikuti. Mungkin semua butuh proses, tapi berapa lama lagi? Berapa waktu yang aku butuhkan untuk menghilangkanmu? Jujur saja, se...

DETIK

Sedetik itu datang membawa berita Menawarkan perkenalan yang tak terduga Ingin rasanya mengatakan tidak Namun pada akhirnya mengatakan iya Mengarungi ruang dan waktuku Membaca seluruh pikiran semu Berlanjut hingga titik kelemahanku Lubang lama telah tertutup Oleh indahnya rangkaian kata yang terucap Kata demi kata yang terus saja membawa terbang Yang kemudian berhenti disuatu titik tertinggiku Detik itu berhenti Kaku Sepi Menatap langkahku dan dataran bawahku Dan tersadar akan sesuatu Lubang baru terbentuk Mungkin ini semua jauh lebih dalam Detik memulai kembali Seketika terjatuh dan terhempas Tersadar akan apa yang telah didapatkan Pengorbanan pun tak cukup Untuk menyembuhkan lubang baru Kembali lagi pada mungkin Mungkin hanya detik yang mampu