Benci adalah kata yang paling dihindari oleh setiap orang. Namun belakangan kata tersebut menjadi tak asing bagi kehidupan ini. Menghindari dan terus berlari dari kata tersebut merupakan sebuah pilihan. Keputusan berat yang diambil dalam tulisan kehidupan. Bagiku semua ini adalah pilihan.
Kata yang terus teringat dalam pikiran, mencoba menghilangkannya perlahan. Setiap detik selalu menginginkan memori tersebut larut. Andai mesin waktu memang ada didunia. Mesin yang dapat merubah keadaan, menghapus segala hal, menghilangkan kebencian. Andai semua ini tidak terjadi maka semua akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja.
Bayangan itu terus saja muncul. Hitam diatas jalan putih yang dilalui. Bayang-bayang yang mengganggu pikiran. Bayang yang mengajak untuk pergi ke kata benci. Bayang yang sulit untuk dihapuskan. Bayang yang mungkin saja akan terus mengikuti. Mungkin semua butuh proses, tapi berapa lama lagi? Berapa waktu yang aku butuhkan untuk menghilangkanmu?
Jujur saja, semua ini membingungkan, melelahkan, dan menyudutkan. Jika memang semua telah berakhir maka pergilah, hilanglah. Bawa semua yang menjadi beban dalam hati. Benci, kata-kata tersimpan, bayangan dan semuanya. Jika aku boleh memilih maka aku ingin kembali menuju waktu itu. Waktu dimana aku menemukan secercah jawaban. Waktu aku bertemu dengan seseorang yang membayang. Bukan untuk merubah pendapatku sekarang, namun untuk menghapus adanya.
Sekarang bagaikan air yang terus mengalir, maka aku akan terus bertahan. Bukan bertahan untuk menjaga, tapi bertahan untuk menghapus segala hal tentangnya. Karena cukup dengan apa yang telah aku dapatkan. Cukup dengan lubang yang baru. Mungkin aku memang salah dalam hal menilaimu. Tapi aku adalah manusia, yang sekali kecewa tetaplah akan kecewa.
Karena sekali lagi, aku berjanji, akan baik-baik saja. Percayalah
Comments
Post a Comment