Menatap awan diwaktu pagi, Itu membuatku tersenyum. Mengerti akan kehadiran sebuah harapan, Yang dulu pernah hilang. Menghentikan kegundahan, Yang berada sesak dalam dada. Menggantikan tangis, Yang sudah terlanjur keluar dari sudut mata. Perlahan kembali bangkit menatap kenyataan. Namun, itu hanya sementara. Kembali aku runtuhkan, Tembok yang telah aku susun sedemikian rupa. Menata hati yang rapuh, Agar tidak ada kata "pergilah". Agar tidak ada kata "hilanglah". Dan agar tidak ada kata "benci kepadamu". Supaya hidup ini menjadi tenang tanpa rasa itu. Supaya aku dapat kembali merasakan keindahan. Lalu, Mengapa aku yang merasa bersalah? Mengapa aku yang harus berusaha? Mengapa aku yang terpikirkan akan segala hal? Dan apakah kamu tahu segala yang aku rasakan? Segala usaha yang aku lakukan terasa sia-sia. Aku menyesali reruntuhan tembok yang dulu aku buat dengan susah. Menyesali mengapa aku memilih untuk ...
Sebuah wadah untuk mencari bermacam cara agar tetap tersenyum dan tenang