Satu kota telah disebut
Jika dulu untuk mengunjungi kota itu saja adalah ketidakmungkinanku
Namun sekarang mencoba untuk membuka keberanian
Berjalan melewati setiap sudut kota itu
Menikmati kemacetan demi kemacetan yang nampak dari pandangan
Potret orang dengan penuh kesibukannya masing-masing
Dalam pikiran ternyata memang kota ini sungguh indah
Ketidakmungkinanku berawal saat mengenalnya
Bahwa dia memang berada disana
Bahwa dia menempuh segala hal disana
Bagiku keberadaan dia adalah hitam
Dengan penuh kejujuranku aku memang menghindarinya
Mencoba membuang segala yang berkaitan
Menghapus segala hari yang pernah terlewati
Dan dengan ketidakmampuanku aku jadikan ketidakmungkinanku
Menolak untuk menyapa kota tersebut
Kesalahan memang menolak menyapa kota tersebut lagi
Sedari aku kecil kota itu menjadi saksi aku beranjak dewasa
Disaat aku menyapa kota tersebut,
Selalu dibawanya senyuman angin untukku nikmati
Dikala hujan maupun terik tetap menghadirkan kerinduan
Bagiku penyesalan menghindarinya selama satu tahun
Ketika kesadaran mulai menunjukkan
Bahwa kota tersebut tidaklah berhubungan
Dia memang berada disana
Tapi keberadaannya tidak ada kaitannya dengan kota ini
Karena kota itu ada bukan untuknya
Tetapi kota itu ada untuk semua orang yang pantas
Membuka kembali ketidakmampuanku
Yang berarti membuka kembali ketidakmungkinanku
Percaya pada keinginan untuk menyapanya kembali
Kota yang selalu membuat aku tersenyum
Mensugesti diri bahwa dia tidak ada disana
Dan kota ini adalah putih
Comments
Post a Comment