Skip to main content

Pertanyaan Sebuah Pernyataan

Menatap awan diwaktu pagi,
Itu membuatku tersenyum.
Mengerti akan kehadiran sebuah harapan,
Yang dulu pernah hilang.
Menghentikan kegundahan,
Yang berada sesak dalam dada.
Menggantikan tangis,
Yang sudah terlanjur keluar dari sudut mata.
Perlahan kembali bangkit menatap kenyataan.
Namun, itu hanya sementara.

Kembali aku runtuhkan,
Tembok yang telah aku susun sedemikian rupa.
Menata hati yang rapuh,
Agar tidak ada kata "pergilah".
Agar tidak ada kata "hilanglah".
Dan agar tidak ada kata "benci kepadamu".
Supaya hidup ini menjadi tenang tanpa rasa itu.
Supaya aku dapat kembali merasakan keindahan.

Lalu,
Mengapa aku yang merasa bersalah?
Mengapa aku yang harus berusaha?
Mengapa aku yang terpikirkan akan segala hal?
Dan apakah kamu tahu segala yang aku rasakan?
Segala usaha yang aku lakukan terasa sia-sia.
Aku menyesali reruntuhan tembok yang dulu aku buat dengan susah.
Menyesali mengapa aku memilih untuk meruntuhkannya.
Menyesali mengapa aku memilih untuk menata.
Dan menyesali mengapa aku memilih jalan ini lagi.

Sebuah tempat yang diberikan,
Bukanlah hanya untuk singgah.
Sebuah hati yang dahulu terluka karenamu,
Bukanlah digunakan hanya untuk pelampiasan.
Sebuah hati yang telah kau hancurkan,
Tidaklah mudah menerimamu kembali tanpa adanya rasa yang kuat.
Hati yang dimiliki seseorang bukanlah untuk dipermainkan.
Hati itu membutuhkan kepastian akan kegunaanya.
Bukan hanya untuk tempat singgah yang kemudian kau buang kembali.

Apa kau tidak merasakan?
Apa kau tidak mengerti?
Apa kau pura-pura buta akan semua yang terasa?
Bagaimana perasaan hati yang telah berakhir seperti itu?
Bagaimana akhirnya harus merawat hati yang seperti itu?
Jika memang kehadiran itu hanya untuk sementara,
Pergilah atau bahkan jangan pernah mencoba melakukannya kembali.
Karena hati yang terluka butuh waktu yang lama agar dapat pulih.
Kau pasti tahu itu karena pernah terluka.
Atau kau lupa itu? Karena hatimu telah mati.
Dan kembali, harapan yang aku dapatkan harus menjadi abu.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kami Sembuh, Pulih Bersama

Luka dan trauma itu akan hilang dalam waktu dekat Luka yang masih basah terasa perih Trauma yang masih menancap pun menyesakan hati Seiring waktu berjalan mereka hanya bisa jadi bekas yang tidak ingin diulang Luka itu menancap pada kami Mungkin semua tidak akan separah ini jika memang tidak melibatkan banyak hal Tapi semua hanyalah kata "mungkin" atau bahkan hanya "jika" Semua sudah terjadi, dan semua sudah terlanjur Perjuanganmu untuk sembuh dari luka nggak main-main Perjuangan kami untuk membasuhnya juga tidak main-main Perjuanganmu untuk sembuh dari trauma nggak main-main Perjuangan kami untuk bangkit juga tidak main-main Semua cara sudah dicoba, dilakukan, dikerjakan Dan pada akhirnya kamu bisa sembuh benar-benar sembuh Dan pada akhirnya kami bisa bangkit benar-benar bangkit Semua tidak lepas dari pertolongan Tuhan, Allah SWT Kami berhasil melewati semua, karena Allah ada bersama kami Allah patahkan, agar tahu bahwa Dia-lah obatnya Allah hancurkan, agar tahu bah...