Skip to main content

SURAT TENTANGMU

Selamat malam wahai engkau yang berada jauh disana. Apa kabar? Akankah salam ini sampai pada hadapan bahkan hatimu?
Pernyataan yang penuh harapan itu selalu muncul. Tak pernah padam sedikitpun. Teringat kapan terakhir memandang wajah yang membuat hati menjadi tidak karuan hingga tubuh terkunci tanpa gerakan. Kini mengapa hanya dapat membayangkannya. Bahkan hasrat ingin bertemu pun ada, namun apakah mungkin?

Sore ini turun hujan, terasa hembusan angin. Kau tahu? Hembusan angin tersebut terasa sama seperti saat aku bersamamu diwaktu dulu. Menembus rintik-rintik hujan untuk kembali pulang.
Hujan datang begitu akrab dengan tanah. Selalu datang disore hari ketika melewati jalanan. Hembusan angin terasa sama seperti saat bersama. Perbedaannya hanya tanpa adanya dihadapan. Angin yang menusuk tulang bercampur dengan rasa.

Tempat ini terasa sama, masih ramai dengan banyak orang berlalu lalang dihadapanku. Duduk ditempat yang sama ketika kita berada disini. Aku memejamkan mataku. Tersenyum. Hanya dapat kuungkapkan dengan senyum. Membayangkan dirimu hadir seketika.
Bangku panjang yang sama ketika kita bersama. Memandang keramaian. Memandang banyak orang berlalu lalang dihadapan. Memejamkan mata. Mendengar suara dan kata yang dulu terucap. Bersama, berkata, bercerita, berbagi rasa. Hanya dalam angan. Sunyi.

Aku kemudian berjalan meninggalkan keramaian. Kembali pulang. Melewati setiap jalan yang dulu kita lewati. Menatap langit yang mendung tanpa bintang. Bayanganmu hadir didalam angan. Pertanyaan pun muncul. Langit yang ku pandang sekarang apakah sama? Apakah kau disana juga melihat langit yang kupandang?
Kendaraan pun melaju. Melewati jalan-jalan tersebut. Menjadi saksi kebisuan ini. Sesekali terdengar suara klakson kendaraan lain. Dianggap sebagai penghibur dikala sepi. Berharap bintang datang dalam langit. Memberikan sedikit senyum pada wajah. Namun, semua hanya angan. Semua tak pernah lepas dari pikiran.

Kau tahu? Sudut istana membuat aku merasa aneh. Setiap ku menatap sudut itu maka bayanganmu hadir. Dengan senyum yang sama. Dengan tingkah yang sama. Dengan kata-kata yang sama.
Kebencian datang pada sudut istana. Tak ingin sekali pun mata memandang. Kenangan yang begitu mengagetkan. Yang sulit untuk diungkapkan. Harapan yang begitu jauh. Akankah terulang?

Dimana dirimu berada? Dimana dapat aku raih? Apa kau tahu apa yang harus aku lakukan? Katakan apa yang bisa kau jelaskan. Dalam diam aku berusaha. Menghapus segalanya yang dapat aku hapus. Berdamai dengan diri sendiri tanpa melukai. Menyembuhkan luka yang terbuka kembali setelah luka lama sembuh. Namun, aku bisa apa? Semua ini, surat ini, tulisan ini, hanya berintikan satu. Aku rindu. Kamu. Senyummu. Tingkahmu. Suaramu. Katamu.

- Seseorang yang dahulu menjadi prioritas -

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kami Sembuh, Pulih Bersama

Luka dan trauma itu akan hilang dalam waktu dekat Luka yang masih basah terasa perih Trauma yang masih menancap pun menyesakan hati Seiring waktu berjalan mereka hanya bisa jadi bekas yang tidak ingin diulang Luka itu menancap pada kami Mungkin semua tidak akan separah ini jika memang tidak melibatkan banyak hal Tapi semua hanyalah kata "mungkin" atau bahkan hanya "jika" Semua sudah terjadi, dan semua sudah terlanjur Perjuanganmu untuk sembuh dari luka nggak main-main Perjuangan kami untuk membasuhnya juga tidak main-main Perjuanganmu untuk sembuh dari trauma nggak main-main Perjuangan kami untuk bangkit juga tidak main-main Semua cara sudah dicoba, dilakukan, dikerjakan Dan pada akhirnya kamu bisa sembuh benar-benar sembuh Dan pada akhirnya kami bisa bangkit benar-benar bangkit Semua tidak lepas dari pertolongan Tuhan, Allah SWT Kami berhasil melewati semua, karena Allah ada bersama kami Allah patahkan, agar tahu bahwa Dia-lah obatnya Allah hancurkan, agar tahu bah...